Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertanian. Tampilkan semua postingan

EVALUASI MUTU DAN NILAI GIZI NUGGET DAGING MERAH IKAN TUNA (Thunnus sp) YANG DIBERI PERLAKUAN TITANIUM DIOKSIDA

EKSTRAK

Daging merah tuna merupakan limbah pada pengolahan dan pengalengan tuna beku karena daging ini cepat mengalami ketengikan dan perubahan warna yang tidak diinginkan. Tujuan peneltian ini adalah : 1) menentukan konsentrasi titanium dioksida (TiO2) yang efektif sebagai pemucat warna merah daging tuna, 2) mengevaluasi mutu nugget ikan daging merah tuna yang dipucatkan dengan TiO2 dibandingkan dengan mutu nugget daging putih tuna, dan 3) mengevaluasi nilai gizi protein nugget ikan tuna yang disimpan pada suhu beku selama 0, 1 dan 2 bulan. Bahan yang digunakan adalah daging merah dan putih ikan tuna yang diperoleh dari PT ISAAP BONECOM, bahan pemucat TiO2 proanalisis serta tikus jenis Spraque Dawley (SD) jantan usia sapih 21 – 23 hari untuk analisis nilai gizi protein secara in vivo. Nugget dibuat berdasarkan Metode BBPPHP (Balai Besar Pengembangan dan Pengendalian Hasil Perikanan) (2003). Parameter yang diamati : derajat putih nugget, uji organoleptik different test, proksimat (protein,lemak, air dan abu), kualitas nugget (TVN, TPC, TBA,Histamin dan Peroksida) dan nilai gizi protein (daya cerna, nilai biologis dan NPU).

Hasil pengujian organoleptik (different test) terhadap skor warna nugget menunjukkan penambahan TiO2 1 % tidak berbeda nyata dengan kontrol (daging putih tuna). Skor tekstur nugget daging merah tuna pada berbagai penambahan TiO2 dan tanpa TiO2 berbeda nyata dengan kontrol. Skor aroma nugget daging merah tuna pada berbagai penambahan TiO2 tidak berbeda nyata dengan kontrol kecuali pada tanpa penambahan TiO2. Skor rasa nugget daging merah tuna pada berbagai penambahan TiO2 dan tanpa TiO2 tidak berbeda nyata dengan kontrol. Kadar protein nugget daging merah tuna penyimpanan 0, 1 dan 2 bulan adalah : 42,0 ; 37,9 dan 34,1 %, kadar lemak : 40,0 ; 30,4 dan 22,9 %, kadar air : 70,5 ; 68,9 dan 67,5 %, kadar abu : 4,3 ; 4,2 dan 3,6 %, kadar TVN : 7,1 ; 7,4 dan 7,7 mgN/100 g masih di bawah standar maksimum nilai TVN untuk makanan yang berasal dari ikan. Jumlah TPC : 3,7; 3,8 dan 3,9 CFU/g masih di bawah standar BSN dan kadar TBA: 0,4, 0,4 dan 0,6 malonaldehid/kg. Evaluasi mutu protein secara in vivo pada perlakuan nugget daging merah dengan penyimpanan beku 0, 1 dan 2 bulan diperoleh nilai daya cerna : 98,5, 98,1 dan 96,8 %. Nilai biologis : 92,1 ; 93,1 dan 96,8 dan NPU : 90,7, 91,3 dan 95,1. Hal tersebut menunjukkan bahwa protein produk nugget daging merah tuna mempunyai mutu yang baik.

Selengkapnya download disini

posted under | 0 Comments

EKSTRAKSI VANILI SECARA ENZIMATIK DARI BUAH VANILI (Vanilla planifolia ANDREWS) SEGAR

ABSTRAK

Ekstrak vanili alami biasanya diproduksi menggunakan buah vanili kering yang telah mengalami kuring karena buah vanili segar tidak memiliki aroma. Selama proses kuring yang kompleks dan panjang terjadi berbagai aktivitas enzim alami dalam buah yang meliputi degradasi dinding sel serta pembentukan flavor vanilin dari glukovanilin oleh aktifitas enzim b-glukosidase.
Berdasarkan hal tersebut maka penelitian ini bertujuan untuk mengembangan metode ekstraksi vanili secara enzimatik langsung dari buah vanili (Vanilla Planifolia Andrews) segar untuk mereduksi biaya dan waktu karena glukovanilin dapat diekstrak dan secara bersamaan ditransformasi menjadi vanilin oleh kombinasi enzim yang berhubungan dengan degradasi dinding sel (selulase dan pektinase) dan hidrolisis glukovanilin (b-glukosidase). Selain itu, kadar vanilin sebagai komponen flavor utama bisa lebih tinggi dibanding ekstrak vanili kering serta persiapan sampel dengan pengeringan beku dilanjutkan penggilingan dapat mengoptimalkan kontak antara enzim dengan substrat.

Metode penelitian terdiri dari 5 tahap yaitu: (1) Karakterisasi kimia buah vanili segar dan kering, (2) Penentuan suhu inkubasi optimum enzim b-glukosidase, (3) Ekstraksi enzimatik buah vanili segar; (a) Satu jenis enzim komersial dengan pelarut air dan atau etanol serta (b) Dua atau tiga jenis enzim komersial dengan pelarut etanol, (4) Optimasi ekstraksi enzimatik; (a) Konsentrasi enzim serta (b) Waktu inkubasi enzim dan (5) Pengamatan terhadap kadar air,serat pangan, vanilin, glukosa dan padatan terlarut.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa vanili segar dan kering memiliki kadar air 83.50% dan 20.48%, vanilin 0.76%bk dan 1.63%bk serta serat pangan 10.17%bk dan 9.84%bk. Ekstrak vanili kering sebagai kontrol mengandung vanilin dan glukosa sebesar 3.28 dan 11.95%bk ekstrak. Suhu optimum bagi aktifitas enzim b-glukosidase adalah 500C yang menghasilkan kadar vanilin dan
glukosa 16.18 dan 75.85%bk ekstrak. Untuk perlakuan dengan 1 jenis enzim komersial, kadar vanillin tertinggi dicapai dengan penambahan b-glukosidase+air+etanol yakni 15.97%bk ekstrak dan glukosa tertinggi dicapai dengan penambahan pektinase+air+etanol yakni 90.26%bk. Seluruh perlakuan dengan etanol menghasilkan kadar vanilin lebih tinggi dibanding air. Untuk
perlakuan dengan 2 atau 3 jenis enzim komersial, kadar vanilin ekstrak tertinggi dicapai dengan perlakuan pektinase+b-glukosidase yakni 7.56%bk ekstrak dan glukosa 90.26%bk ekstrak. Konsentrasi optimum aktifitas enzim b-glukosidase adalah 10 unit yang menghasilkan kadar vanillin dan glukosa 15.62 dan 73.95%bk ekstrak. Sedangkan waktu inkubasi optimumnya adalah 4 jam dengan kadar vanilin 15.04%bk dan glukosa 73.86%bk ekstrak. Oleh sebab itu, ekstraksi terbaik diperoleh melalui penambahan b-glukosidase 10 unit terhadap 0.5901 g bk buah vanili segar menggunakan shaker water bath terkontrol 150 rpm pada suhu 500C selama 4 jam, yang selanjutnya ditambahkan etanol 47.5%v/v selama 30 menit. Kondisi ekstraksi ini mampu
menghasilkan kadar vanilin 4.6 kali lebih tinggi dibanding metode ekstraksi konvensional yang menggunakan buah vanili kering.

Selengkapnya download disini

posted under | 0 Comments

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN SAGA, SAMBILOTO DAN PARE TERHADAP DIFERENSIASI SEL-SEL LEUKOSIT, KANDUNGAN Fe, Zn dan HORMON TESTOSTERON DALAM PLASMA

ABSTRAK

Perkutut merupakan burung pemakan biji yang memiliki kelebihan mampu mengemisikan suara yang terdengar merdu. Suara merdu tersebut umumnya dihasilkan oleh individu perkutut jantan. Untuk memproduksi suara yang berkualitas perlu diperhatikan suplai pakan yang dapat menunjang faktor kesehatan sehingga penampilan suara burung menjadi prima. Selain penambahan pakan pokok/dasar, peternak juga melakukan penambahan suplemen antara lain melalui pemberian dedaunan seperti daun
saga, daun sambiloto, dan daun pare pada diet yang dipercaya dapat meningkatkan kesehatan burung agar burung dapat memiliki penampilan suara yang berkualitas.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun saga,ekstrak daun sambiloto dan ekstrak daun pare terhadap diferensiasi sel-sel leukosit,kandungan mineral (Fe dan Zn) dan hormon testosteron sebagai faktor yang bertanggung jawab pada kualitas produksi suara. Perkutut yang digunakan sebanyak 25 ekor berumur 4-6 bulan dan dipelihara selama 10 sepuluh) minggu. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), yang dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan dan setiap kelompok perkutut dibagi dalam 5 ulangan, masing-masing 1 ekor. Adapun desain perlakuan pakan adalah sebagai berikut : A = 10 gram pakan utama sebagai kontrol; B = pakan kontrol + 0.018 gram ekstrak daun saga; C = pakan kontrol + 0.018 gram ekstrak daun sambiloto; D = pakan kontrol + 0.018 gram ekstrak daun pare hutan; E = pakan
kontrol + Kombinasi (0.006 gram ekstrak daun saga + 0.006 gram ekstrak daun sambiloto
+ 0.006 gram ekstrak daun pare. Peubah yang diamati meliputi konsumsi ransum dan konsumsi nutrien perlakuan, diferensiasi sel-sel leukosit, zat besi (Fe), seng (Zn), hormon
testosteron dan durasi suara (durasi silabel dan durasi antar silabel). Hasil penelitian
menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh perlakuan suplementasi dedaunan terhadap rataan konsumsi ransum, namun secara besaran individu yang mendapat perlakuan D lebih banyak mengkonsumsi ransum. Tingkat konsumsi nutrien terbanyak dan tertinggi terdapat pada perlakuan C. Lebih lanjut diketahui bahwa tidak ada pengaruh perlakuan terhadap diferensiasi sel-sel leukosit, kandungan seng dan hormon testosteron dalam plasma serta durasi suara (silabel dan antar silabel) yang diamati. Walaupun hasil penelitian tersebut tidak menunjukkan perbedaan nyata, namun ada indikasi bahwa ekstrak daun pare dapat meningkatkan daya tahan tubuh burung perkutut sehingga memberikan respon terhadap tingkat konsumsi pakan yang implikasinya terlihat pada
peningkatan kandungan Zn (seng) dan hormon testosteron dalam plasma darah yang berpengaruh pada durasi suara burung perkutut. Kandungan zat besi (Fe) dalam plasma pada perlakuan B penambahan 0.018 gram ekstrak daun saga) meningkat secara nyata (P<0.05) dibandingkan dengan perlakuan yang lain

Selengkapnya download disini

posted under | 0 Comments

EKSTRAK BENALU TEH (Scurrula oortiana) SEBAGAI IMUNOMODULATOR DAN ANTITUMOR INFEKSI Marek’s Disease Virus (MDV) SEROTIPA 1 ONKOGENIK PADA AYAM

ABSTRAK

Ayam dalam kondisi normal memproduksi radikal bebas (prooksidan)sebagai proses fisiologis yang seimbang dengan antioksidan endogen yang tersedia. Infeksi Marek’s disease virus(MDV) onkogenik pada ayam diawali sitolisis pada limfosit B dan limfosit T, ayam memberikan responss imun yang didahului oleh responss imun nonspesifik, yaitu fagositosis oleh mekrofag dan
neutrofil yang menghasilkan bahan penghancur mikroorganisme patogen berupa peningkatan produksi radikal bebas yang memiliki efek samping, yaitu kerusakan molekul-molekul pada sel sehingga menimbulkan sitolisis termasuk pada limfosit B dan limfosit T. Radikal bebas merupakan bahan karsinogen yang menimbulkan mutasi gen sehingga dapat menginduksi terjadinya kanker. Virus penyebab tumor disebut virus onkogen dan gen yang ada pada virus disebut viral
oncogen (V-onc) yang homolog dengan sekuen DNA pada gen seluler inang,yaitu proto oncogen (C-onc) yang dapat berinteraksi dengan gen virus. Terjadinya transformasi pada gen seluler inang oleh gen virus bergantung pada resistensi seluler inang, virulensi virus penyebab, dan kehadiran substansi kimia penyebab tumor, yaitu bahan karsinogen yang menginduksi terjadinya mutasi.

Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh ekstrak benalu teh Scurrula oortiana terhadap fenomena imunologis dan risiko kanker pada ayam yang diinfeksi virusherpes MDV onkogenik, sedangkan secara khusus tujuan penelitian ini adalah: pembuktian secara ilmiah khasiat eksstrak S. oortiana sebagai imunomodulator dan mengurangi risiko kanker, menggunakan
parameter imunologi. Menjadikan benalu teh S. oortiana sebagai obat herbal berstandar.

Tahap pertama uji penentuan dosis infeksi MDV onkogenik, digunakan 20 ekor ayam dibagi ke dalam lima kelompok perlakuan masing-masing empat ekor yaitu : A. kontrol tanpa infeksi, B. diinfeksi intraperitoneal dengan dosis 0,125 x 1000 EID50, C. 0,250 x 1000 EID50, D 0,500 x 1000 EID50, dan E 1 x 1000 EID50. Sedangkan tahap kedua digunakan 60 ekor ayam dibagi ke dalam empat kelompok perlakuan yaitu : perlakuan A. diberi ekstrak S. oortiana dengan, tanpa
infeksi MDV, B tanpa pemberian ekstrak S. oortiana dan tanpa infeksi MDV, C diberi ekstrak S. oortiana dan diinfeksi MDV, dan D tanpa diberi ekstrak S.oortiana, diinfeksi MDV. Ekstrak benalu teh diberikan secara oral (dicekok) sejak ayam berumur 15 hari sampai akhir percobaan, dengan dosis 10 mg/kg bobot badan yang dilarutkan dalam air minum. Ayam diinfeksi dengan virus
Marek pada umur 20 hari secara intraperitoneal dengan dosis 1.000 EID50.

Parameter yang diamati : Perhitungan antibodi untuk uji imunitas terhadap penyakit Marek dengan teknik enzyme-linked immuno sorbent assay (ELISA) pada 10, 20, dan 30 hari pacainfeksi (p.i). Perhitungan leukosit dan persentase limfosit pada 20 dan 40 hari p.i. Penimbangan dan perhitungan ratio bobot reltif limpa, bursa Fabricius dan timus pada hari 20 dan 40 p.i. Perubahan histopatologi pada bursa Fabricius, hati, dan proventriculus pada 20 dan 40 hari
p.i. Uji imunohistokimia terhadap iNOS pada organ hati dan uji imunohistokimia terhadap MDV pada organ bursa Fabricius pada 20 hari p.i.

Ekstrak benalu teh (S. oortiana) berkhasiat sebagai imunomodulator ditandai dengan paningkatan rataan bobot relatif bursa Fabricius, bobot relatif timus, dan diameter folikel bursa Fabricius. Hasil tersebut tercermin dari meningkatnya rataan bobot realatif bursa Fabricius pada kelompok ayam yang diberi ekstrak S. oortiana dibanding kelompok yang diberi ekstrak dikombinasi dengan infeksi MDV maupun keleompok ayam yang hanya diinfeksi MDV 20 hari
p.i. Bobot relalatif timus pada kelompok ayam yang diberi ektrak S. oortiana dan diinfeksi MDV tidak mengalami penurunan pada 20 hari pascainfeksi, hal ini menunjukkan bahwa ekstrak S. oortiana mampu menghambat imunosupresi akibat infeksi MDV. Pada pengamatan ini terjadi peningkatan rataan diameter folikel bursa Fabricius 40 hari pascainfeksi pada kelompok ayam perlakuan kombinasi ekstrak S. oortiana dibanding dengan semua kelompok perlakuan.
Keberadaan iNOS berdasarkan reaksi positif dengan pewarnaan imunohistokimia pada jaringan hati diduga terkait dengan aktivitas sel-sel dalam hati yang diekspresikan oleh sel-sel Kupffer maupun sel endotel. Kelompok ayam yang diberi ekstrak S. oortiana tanpa infeksi MDV (A) mengalami peningkatan pembentukan iNOS yang lebih banyak jika dibandingkan dengan kelompok
ayam tanpa diberi ekstrak S. oortiana tanpa infeksi MDV (B). Infeksi MDV mampu meningkatkan jumlah sel yang menghasilkan iNOS baik pada kelompok yang diberi ekstrak maupun tanpa diberi ekstrak S. oortiana dibanding dengan kelompok ayam tanpa infeksi. Hal ini menunjukkan bahwa infeksi MDV mampu meningkatkan produksi iNOS sebagai bagian dari responss imun nonspesifik.
Meningkatnya titer antibodi terhadap MDV pada 20 hari kelompok perlakuan pemberian benalu teh dan infeksi MDV (C) lebih tinggi daripada kelompok tanpa pemberian benalu teh dan tanpa infeksi MDV (B). Hal ini disebabkan adanya kombinasi pengaruh imunomodulasi ekstrak S. oortiana
dengan faktor imunostimulasi sebagai respons imun akibat tindakan uji tantang. Pemeriksaan imunohistokimia keberadaan MDV pada bursa Fabricius menunjukkan terjadi penurunan pada kelompok ayam yang diinfeksi dengan MDV dan diberi ekstrak S. oortiana. Pemberian ekstrak S. oortiana pada ayam yang diuji tantang dengan MDV onkogenik mampu menurunkan risiko kanker yang ditandai persentase limfosit pada leukosit 20 hari p.i dan menurunnya jumlah limfosit submukosa
proventrikulus 40 hari p.i pada kelompok ayam yang diberi benalu teh dan diinfeksi. Perubahan histopatologi pada 40 hari p.i yang terjadi akibat infeksi MDV adalah infiltrasi sel-sel limfoid dan makrofag pada organ hati. Kelompok ayam yang diberi ekstrak benalu teh dan diinfeksi MDV ternyata mampu menekan pertumbuhan sel-sel limfoid atau sel tumor, yang ditunjukkan dengan jumlah sel limfoid yang lebih sedikit dibandingkan dengan hati pada kelompok
ayam tanpa diberi ekstrak benalu teh dan diinfeksi MDV.

Selengkapnya download disini

posted under | 0 Comments

EFEK PENCEMARAN PERAIRAN SUNGAI KAMPAR DI PROVINSI RIAU TERHADAP IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus)

ABSTRAK

Muara Sungai Kampar merupakan gabungan dari beberapa aliran sungai besar dan anak sungai yang terdapat di Provinsi Riau. Aliran air yang masuk ke muara Sungai Kampar mengindikasikan banyak mengandung bahan pencemar. Hal ini terjadi karena di sepanjang sungai yang mengalir ke muara Sungai Kampar terdapat banyak pabrik-pabrik atau kegiatan industri yang beroperasi dan membuang limbahnya ke sungai. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi kandungan bahan pencemar dari berbagai aktivitas manusia yang berada di sekitar perairan Sungai Kampar, khususnya bahan pencemar yang ditimbulkan dari aktifitas industri terhadap organisme perairan.

Metode yang digunakan adalah survey lapangan dan melakukan analisa logam berat dengan menggunakan metode AAS, analisa histologi, analisis statistika setiap parameter (air, sedimen dan organ insang dan ginjal ikan baung).

Hasil analisa didapatkan bahwa logam berat yaitu kandungan Pb dan Cd yang cukup tinggi terutama pada bagian hulu dan juga telah terakumulasi pada organisme ikan baung. Ini dapat dilihat dari analisa histopatologi pada insang dan ginjal ikan. Pada organ insang dan ginjal ikan baung telah mengalami perubahan bentuk akibat adanya logam berat tersebut. Analisa statisika menunjukkan interaksi yang nyata dengan nilai P > 0,05 antara faktor air, sedimen, insang dan ginjal ikan terhadap stasiun pengamatan (hulu, tengah dan hilir Sungai Kampar).
Kandungan logam Cd di perairan Sungai Kampar bedasarkan analisis statistika menunjukkan tidak adanya interaksi antara parameter dengan stasiun pengamatan pada taraf p > 0,05. Ini membuktikan bahwa akibat berbagai aktifitas terutama industri yang membuang limbah yang mengandung logam berat mempengaruhi perubahan kualitas air dan organisme ikan terutama ikan baung.

Selengkapnya download disini

posted under | 0 Comments

PERBAIKAN TANAH MEDIA TANAMAN JERUK DENGAN BERBAGAI BAHAN ORGANIK DALAM BENTUK KOMPOS

ABSTRAK

Penambahan bahan organik berupa kompos dapat memperbaiki sifat-sifat tanah, akan tetapi banyak ditinggalkan penggunaannya padahal perannya sangat besar bagi perbaikan tanah. Selain itu, penggunaan bahan yang tidak ditemukan di lapang pun sering terjadi. Penggunaan bahan organik yang mudah diperoleh setempat dipandang efektif sebagai bahan pembuat kompos.

Penelitian ini menggunakan lima macam bahan organik in situ, dengan tujuan mengetahui kandungan hara dari kompos yang digunakan, melihat pengaruh penambahan kompos terhadap perubahan sifat-sifat tanah dan pertumbuhan tanaman, dan mencari jenis kompos yang memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan tanaman jeruk. Penelitian ini menganalisis sifat kimia, biologi tanah, dan fisika, dan analisis kadar hara tanaman.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan hara kompos tergantung dari jenis bahan asalnya. Pengaruh aplikasi kompos terhadap sifat-sifat tanah media tanaman jeruk sudah mulai terlihat sejak tiga bulan setelah aplikasi, di
mana terjadi peningkatan ketersediaan hara di dalam tanah. Kompos juga sangat mempengaruhi populasi cacing di dalam tanah, terlihat dari aplikasi kompos jerami padi populasi cacing mencapai 906 ekor/m2, bahkan aplikasi kompos rumput mencapai 1099 ekor/m2. Terhadap sifat fisik, aplikasi kompos memperbaiki porositas trumbuk, dengan perbandingan komposisi pembentuk tanah menjadi lebih baik. Pertumbuhan tanaman selama enam bulan setelah
aplikasi kompos sedikit dipengaruhi oleh penambahan kompos yang dapat terlihat dari masih kurangnya perubahan dalam kadar hara tanaman jeruk, namun dari jumlah buah sudah terlihat bahwa aplikasi kompos kotoran sapi dan kompos batang pisang jelas meningkatkan produksi buah.

Selengkapnya download disini

posted under | 0 Comments

UJI KOMPATIBILITAS DAN DAYA HASIL AKSESI BUNGA MATAHARI YANG TUMBUH DI KOTA BENGKULU

RINGKASAN

Bunga matahari merupakan komoditas penting untuk keperluan bahan makanan, obat-obatan, kosmetika dan bahan industri. Di Indonesia, mula-mula bunga matahari hanya ditanam sebagai tanaman hias, belum digunakan sebagai produk komersial. Sejalan dengan meningkatnya permintaan untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Indonesia harus mengimpor biji dan minyak bunga matahari dari negara penghasil khususnya Australia dan Amerik Serikat. Untuk mengurangi impor terhadap komoditi bunga matahari, perlu dilakukan budidaya dengan memperhatikan teknik budidaya sehingga kualitas bunga matahari yang diperoleh dapat menyamai kualitas bunga matahari impor. Dari hasil survei dilapangan terdapat tingkat kompatibilitas yang bervariasi pada aksesi bunga matahari yang ditemukan di berbagai kawasan di Propinsi Bengkulu. Kompatibilitas perkapitula 20-100%. Dengan demikian terdapat aksesi yang berbiji penuh (sempurna) dan aksesi yang hanya berbiji sebagian. Aksesi yang berbiji penuh disebabkan oleh peran tingkat kompatibilitas yang tinggi. Mekanisme kompatibilitas ini belum sepenuhnya dipahami. Oleh sebab itu perlu menyeleksi aksesi bunga matahari yang mempunyai tingkat kompatibilitas sendiri yang tinggi agar tidak tergantung dengan keberadaan polinator. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kompatibilitas dan daya hasil aksesi bunga matahari yang tumbuh di kota bengkulu. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2007 sampai Maret 2008, di lahan Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu. Dengan ketinggian tempat ± 10 m dpl. Rancangan yang digunakan yaitu rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) secara faktorial. Faktor pertama merupakan lima aksesi bunga matahari dari wilayah kota Bengkulu yaitu A1(aksesi dari Kandang Limun), A2 (aksesi dari kelurahan Beringin Raya), A3( aksesi dari kelurahan Sawah Lebar Baru), A4 (aksesi dari kelurahan Kandang Mas) dan A5 (aksesi dari kelurahan Semarang). Faktor kedua yaitu perlakuan isolasi kapitula yang terdiri dari T0 (kapitula tidak diisolasi), T1 (kapitula diisolasi). Dari kedua faktor tersebut didapatkan 10 kombinasi dan diulang sebanyak 3 kali. Variabel yang diamati yaitu umur berbunga, tinggi tanaman (cm), jumlah ruas, panjang ruas (cm), panjang daun (cm), lebar daun (cm), diameter kapitula (mm), jumlah biji bernas dan tidak bernas perkapitula, berat biji (g), Panjang biji(mm), lebar biji (mm), dan tebal biji (mm). Data yang diperoleh, dianalisis dengan analisis varians dan dilanjutkan dengan uji DMRT (Duncant Multiples Range Test). Pengujian kompatibilitas dilakukan secara visual maupun dengan cara menutup kapitula agar tidak terjadi persilangan terbuka (cross pollination). Dari analisis keragaman pada 5 aksesi bunga matahari menunjukan bahwa aksesi bunga matahari berbeda sangat nyata untuk semua variabel pengamatan kecuali variabel umur berbunga, panjang ruas dan lebar daun yang hanya berbeda nyata. Untuk isolasi kapitula berbeda sangat nyata pada variabel tinggi tanaman, jumlah biji bernas per kapitula, jumlah biji tidak bernas per kapitula, berat biji, panjang biji, lebar biji dan tebal biji. Interaksi antara aksesi dengan isolasi kapitula tidak berbeda nyata pada semua variabel kecuali pada variabel jumlah biji bernas per kapitula dan berat biji. Penampilan lima aksesi bunga matahari pada variabel pertumbuhan dan hasil menunjukan bahwa Aksesi 2 merupakan aksesi terbaik diantara aksesi yang lainnya. Aksesi 2 memiliki nilai yang tinggi keculi pada variabel jumlah biji tidak bernas per kapitula. Hal tersebut dapat dijadilan indikasi bahwa Aksesi 2 mempunyai tingkat kompatibilitas yang tinggi di bandingkan aksesi yang lain. Pada perlakuan isolasi kapitula diketahui bahwa bunga matahari yang kapitulanya diisolasi menghasilkan jumlah biji tidak bernas lebih banyak dibandingkan dengan bunga matahari tanpa isolasi. Hal ini menunjukan bahwa polinator sangat berperan aktif dalam penyerbukan bunga dan proses pembentukan biji. Dari interaksi antara aksesi dengan perlakuan isolasi diketahui bahwa interaksi antara Aksesi 1, 2 dan 3 tanpa perlakuan isolasi menunjukan jumlah biji bernas per kapitula yang terbanyak dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Untuk berat biji, Aksesi 1 tanpa perlakuan isolasi memberikan hasil terbaik dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Rata-rata kompatibilitas sendiri dari lima aksesi bunga matahari yang digunakan masih sangat rendah. Kompatibilitas sendiri yang paling tinggi terdapat pada Aksesi 2 dengan nilai 4, 99%.

Selengkapnya download disini

posted under | 0 Comments

PEMBUATAN BRIKET DENGAN KOMPOSISI LIMBAH CAIR CPO (crude palm oil) DAN ARANG TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT

RINGKASAN

Pembuatan Briket Dengan Komposisi Limbah Cair CPO (crude palm oil) Dan Arang Tandan Kosong Kelapa sawit. (Lusia. Dibawah bimbingan Yuwana dan Devi Silsia, 2008, 51 halaman). Briket adalah bahan bakar padat yang dapat digunakan sebagai alternatif pengganti minyak tanah. Jenis-jenis briket berdasarkan bahan penyusunnya terdiri dari briket batu bara, briket bio-batu bara, briket sekam padi, briket arang kayu, dan briket arang tandan kosong kelapa sawit. Secara umum pembuatan briket adalah dengan pembakaran langsung dengan udara terkontrol. Kemudian arang yang dihasilkan dicampur dengan bahan pengikat/perekat yang biasanya digunakan adalah pati. Penelitian ini mencoba penambahan berat dengan komposisi limbah cair CPO dan arang tandan kosong kelapa sawit tanpa menggunakan bahan pengikat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi yang tepat dari penggunaan limbah cair CPO dan arang tandan kosong kelapa sawit dalam pembuatan briket. Penelitian ini menggunakan rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan tunggal ( persentase berat penambahan limbah cair CPO pada arang tandan kosong kelapa sawit). Dengan perbandingan limbah cair CPO : arang tandan kosong kelapa sawit yaitu 20% : 80%, 40% : 60%, 50% : 50%. Briket hasil penelitian ini dibandingkan dengan standar mutu briket yang umum kita jumpai. Jika dibandingkan dengan standar mutu briket arang kayu dan standar mutu briket batu bara, maka briket hasil penelitian ini telah memenuhi standar mutu briket sebagai bahan bakar dilihat dari nilai kalor. Dari uji F pada taraf 5% didapatkan dari ke tiga komposisi yang ada baik kadar air, kadar abu, maupun nilai kalor tidak berbeda nyata. Ini berarti dari ketiga komposisi yang ada dapat menjadi pilihan untuk dimanfaatkan. Dari hasil Analisa yang ada dapat dikatakan bahwa penambahan persentase berat limbah cair CPO ke dalam arang tandan kosong kelapa sawit dapat menurunkan kadar air, kadar abu dan meningkatkan nilai kalor. Ini berarti bahwa briket hasil penelitian ini dapat dikatakan baik. Untuk menghasilkan rendemen arang hasil pembakaran tandan kosong kelapa sawit yang tinggi maka perlu adanya penelitian tentang teknologi pengarangan yang tepat.

Selengkapnya download disini

posted under | 0 Comments

KARAKTERISTIK KARAGINAN RUMPUT LAUT Eucheuma cottonii PADA BERBAGAI UMUR PANEN, KONSENTRASI KOH DAN LAMA EKSTRAKSI

Indonesia sebagai negara kepulauan dengan panjang garis pantai 81.000 km merupakan kawasan pesisir dan lautan yang memiliki berbagai sumberdaya hayati yang sangat besar dan beragam. Berbagai sumberdaya hayati tersebut merupakan potensi pembangunan yang sangat penting sebagai sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru (Dahuri 2000).

Rumput laut sebagai salah satu komoditas ekspor merupakan sumber devisa bagi negara dan budidayanya merupakan sumber pendapatan nelayan,dapat menyerap tenaga kerja, serta mampu memanfaatkan lahan perairan pantai di kepulauan Indonesia yang sangat potensial. Sebagai negara kepulauan, maka pengembangan rumput laut di Indonesia dapat dilakukan secara luas oleh para petani/nelayan. Sebagai dasar hukum dalam mendorong kegiatan usaha budidaya laut maka pemerintah telah mengeluarkan Keppres No. 23 tahun 1982 tentang Pengembangan Budidaya Laut di perairan Indonesia.

Telah dilakukan penelitian tentang karakteristik karaginan rumput laut Eucheuma Cottoni pada berbagai umur panen, konsentrasi KOH dan lama ekstraksi.Hasil penelitian memberikan kesimpulan sebagai berikut :

1. Kombinasi perlakuan terbaik (optimum) yang dihasilkan adalah umur panen 50 hari, konsentrasi KOH 9 % dan lama ekstraksi 4 jam (A3B3C2)berdasarkan parameter viskositas sebesar 33,28 cP, kekuatan gel 435,54 g/cm2, rendemen 34,63 %, kadar abu 17,02 % dan kadar air sebesar 9,98 %.

2. Perlakuan umur panen, konsentrasi KOH dan lama ekstraksi memberikan pengaruh nyata terhadap mutu karaginan yaitu rendemen, viskositas, kekuatan gel, dan kadar abu.

3. Karaginan Eucheuma cottonii memiliki sifat fisik dan kimia yang hampir sama dengan karaginan komersial, bahkan beberapa parameter cenderung lebih baik seperti viskositas dan kadar air. Hasil pengukuran derajat putih karaginan Eucheuma cottonii juga menunjukkan nilai yang hampir sama dengan karaginan komersial.

4. Sifat kimia dan fisik tepung karaginan Eucheuma cottonii secara umum memenuhi standar mutu karaginan yang ditetapkan oleh FAO, FCC, EEC dan EU.

Selengkapnya download disini

posted under | 0 Comments
Postingan Lama Beranda

Sponsor


Masukkan Code ini K1-877463-7
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com

Translate

English French German Spain Italian Dutch
Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Pengunjung

free counters

Followers


Recent Comments